“Pernah nggak sih, lu jatuh cinta?” seorang teman melontarkan pertanyaan itu suatu ketika. Ipul, sebutlah begitu, si penanya itu, ia temanku satu kampung.
Aku merenung sebentar. Entah, rasanya sudah lama aku tidak jatuh cinta. Mungkin karena hatiku sudah butek dan jutek. Namun, aku tetap mencoba untuk merenung kembali tentang jatuh cinta. Utamanya tentang substansinya, yaitu cinta.
Cinta, sebuah kata yang tersusun dari lima buah huruf. Sulit sekali mengartikannya. Mungkin bisa diibaratkan dengan cintanya matahari kepada bumi. Betapapun suhu kulit luar matahari mencapai 6000K, ia tidak pernah menyebabkan seluruh dunia hangus karenanya. Namun, andaikan saja jarak matahari ke bumi dikurangi satu senti saja, tentu akan menyebabkan kenaikan suhu yang sangat besar untuk bumi hingga menjadi bumi padang pasir. Ataupun jika jarak matahari ke bumi di tambah satu senti, mungkin bumi akan berubah menjadi padang es.
Itulah cinta matahari kepada bumi. Matahari senantiasa menjaga bumi agar tetap sejuk untuk dihuni manusia. Namun, berikutnya pertanyaan mendasar terlontar. Siapakah yang menciptakan cinta antara matahari dan bumi?
“Pernah nggak sih, lu jatuh cinta?” Ipul bertanya lagi. Tepatnya ketika aku dan dia kemping di sebuah pantai di kampungku, ia mencoba membuka isi hatinya kepadaku.
“Mungkin,” jawabku datar. “Udah lama gue nggak jatuh cinta,” lanjutku.
“Gue jatuh cinta, Nat.” ia berbisik, memecah keheningan malam di bibir pantai. “dengan seorang akhwat.”
Dengan akhwat? Bukan dengan kucing? Aku tertawa dalam hati sambil menggeser posisi dudukku untuk mendekatinya. Angin laut yang dingin membelai rambutku. Membuatku semakin mendekapkan lutut. Api unggun yang masih giat menjilati kayu bakar terasa kurang hangat.
“Ia seorang akhwat yang penuh semangat dan enerjik. Nggak ada yang seperti dia di organ gue.” Ia berhenti sejenak, menarik nafas. Aku hanya diam, mendengar, dan memperhatikan. Aku sudah mafhum apabila ia sedang bercerita, ceritanya akan mengalir seperti air. Bila ada setumpuk batu yang menghalangi, tentulah alur ceritanya akan berubah.
“Semua itu berawal ketika gue dan tim ahli FSxx LDK gue, berangkat ke kota M, untuk mengonsep MUNAS I FSxx. Tim gue terdiri dari dua ikhwan dan seorang akhwat. Yaitu gue sendiri, Akh Ivan, dan Ukh Afa. Akh Ivan ama Ukh Afa tuh, senior gue. Kita berangkat malam hari dari kampus gue. Dan rencananya jam sembilan kita lepas dari kota ini.” Ia membuka cerita.
Aku ingat ketika itu. Aku juga merupakan utusan MUNAS I FSxx dari LDK kampusku. Namun karena ketika menjelang hari keberangkatan aku tiba-tiba sakit, maka teman-teman terpaksa tidak memberangkatkan diriku.
“Nah, sekitar jam setengah sembilan, kita berangkat bareng ke terminal bis pake motor. Gue dan ikhwan satu lagi, dibonceng ama senior-senior gue. Sedangkan yang akhwat dianter ama temen kosnya. Akhwat juga. Lu masih inget kan, ama Eka, temen satu sekolah lu?”
Ia merendahkan suaranya ketika menyebutkan nama akhwat itu, yang biasa disebut oleh teman-temannya dengan panggilan Eka. Aku pernah mengenalnya ketika SMA dulu. Ia memang mantan ikhwit yang tomboy. Hobinya adalah naik gunung dan ngebut.
“Gue en temen-temen nyampe di terminal bis, dan kita ketemu dengan tim FSxx dari kampus laen yang juga berangkat untuk menghadiri pertemuan di kota A. Kita memang udah janjian.”
“Pas itu kita masih biasa-biasa aja, hingga suatu saat, Ukh Afa terlihat memarahi Ukh Eka.” Wajah Ipul terlihat memerah. Entah karena marah, kesal, atau karena malu.
“Malam itu, Ukh Eka yang sedianya hanya mengantar Ukh Afa sampai terminal, bersikeras untuk ikut berangkat. Mau pulang, katanya.”
Memang, Eka yang jadi tema cerita malam ini, adalah seorang akhwat yang selain tomboy, juga punya karakter keras kepala, nekat, tapi pemberani. Ia tinggal di bilangan kota sebuah provinsi yang bersebelahan dengan provinsi Ipul. Ketika SMA, Eka sering pulang kampung naik motor. Padahal, jalan yang mengantarkan Eka pulang, tergolong jalan padat dan punya resiko kelas satu.
“Ukh Eka terus berkeras untuk pulang, dan akhirnya Ukh Afa mengizinkan. Gue gondok banget ngeliatnya. Gue sempet mikir, nih akhwat error apa edan ya?”
Ternyata, wajah Ipul yang memerah disebabkan oleh rasa kesal yang mendalam. Lucu juga nih….
“Ternyata sebelum Ukh Eka memutuskan untuk ikut berangkat, ia bertemu dengan seorang temannya dari kota yang sama dengannya. Mereka tinggal di kampung yang sama. Hanya saja sekarang, temannya kuliah di kampus yang berbeda dengan kampusnya gue ama Ukh Eka.”
“Masalahnya, temennya Ukh Eka tuh, cowok. Gue kan jadi takut kalo Ukh Eka diapa-apain. Itu pertama kalinya timbul di dada rasa ingin melindungi Ukh Eka.”
Cieee…. Sok puitis juga nih bocah, pikirku.
“Tapi untunglah, pas kita mau berangkat, Ukh Eka keilangan jejak temennya. Entah temennya dah berangkat duluan, gue nggak tau. Yang pasti, Ukh Eka sempet nanya temennya yang tadi ama gue. Dan gue jawab kalo gue nggak tau”
“Jam sembilan malem kita berangkat. Ketika itu, bis masih sepi. Mungkin pas nggak rame, kali ya? Posisi dudukku dengan Ukh Eka hanya selisih dua kursi. Satu baris tempat duduk itu ada empat kursi. Jadi andaikan gue duduk di banjar kursi sebelah kiri, bagian kanan, Ukh Eka duduk di banjar kanan, bagian kiri.”
“Eh, gimana maksudnya. Gue nggak ngerti banjar-banjaran yang lu bilang,” ujarku. Kebetulan ketika ia menjelaskan tentang masalah banjar, pikiranku lagi terbang ke soto banjar.
“Yah, elu Nat. Biasa pulang pake bis ekonomi sih. Isinya kan, satu baris lima kursi.” Ipul tampak sewot. “Gini aja deh, lu masih inget kan, waktu upacara SMA kita disuruh baris dua-dua? Anggep aja satu garis ke samping disebut baris. Sedangkan satu garis ke belakang disebut banjar. Nah, kalo di bis itu kan, satu baris ada empat kursi yang dibagi dalam dua bagian.”
“Oh iya, sori Pul, gue baru nyambung masalah banjar ama baris,” Sambarku cepat. “terusin lagi cerita lu.”
“Tiba-tiba, Ukh Afa nyuruh gue pindah. Gue sempet mikir, ni orang kenapa, koq nyuruh gue pindah. Padahal gue nggak ngapa-ngapain. Gue baru sadar pas gue pindah ke lajur kanan, satu garis ama Ukh Eka. Ternyata Ukh Afa curiga kalo gue ambil kesempatan curi pandang ke arah Ukh Eka dengan posisi seperti itu,” Ipul berhenti sejenak. Untuk mengatur detak jantungnya. “Memang, antara gue ama Ukh Afa itu ada konflik terpendam. Gue dulu pernah disidang ama Ukh Afa gara-gara Ukh Afa curiga ama gue, kalo gue nyimpen VMJ ama Ukh Eka. Padahal, aslew, gue aktif di LDK tuh, gara-gara panggilan hati. Walau nggak bisa gue pungkiri, rasa simpati ama Ukh Eka juga pernah menghampiri hati gue.”
Yaa, begajul juga ni anak. Ngakunya nggak VMJ, ternyata malah kena infeksi VSMMJ alias Virus Simpati Menjadi Merah Jambu. Aku pikir sih, lumrah apabila seorang aktivis dakwah kena VMJ. Asal tidak menginfeksi hati. Itu prinsipku.
“Di perjalanan ke kota MU, tempat transit Ukh Eka, Ukh Eka sempet minjem HP ama gue buat ngirim SMS. Buat ortu kayaknya. Gue juga sempet nanya. Kira-kira jam berapa dan pake apa Ukh Eka nerusin perjalanan ke kampungnya? Trus, dia bilang kalo nyampe di kota B, sebut aja kayak gitu, kira-kira jam dua belasan. Trus dari kota B ke terminal kampungnya, nerusin naik bis. Abis itu dari terminal, Ukh Eka dijemput ama bokapnya.”
“Gile banget. Akhwat, malem bolong turun di terminal!? Gue nggak abis pikir, Nat. Ternyata Allah pernah menciptakan akhwat macem Eka. Nekat banget ni anak,” Ipul berhenti sejenak. Ceritanya terdengar seperti cerita orang yang ekstra khawatir. “Gue sempet mikir. Andaikan gue boleh nemenin akhwat ampe rumah, gue mau nganterin dia pulang ampe depan rumahnya.”
Dasar, ni anak masih bakwan kayaknya. Eh, semi ikhwan ding.
“Akhirnya, kita tiba di kota B. Tepat jam dua belas. Gue tegang banget en berharap cemas, mudah-mudahan ni anak nggak diapa-apain ama preman terminal. Soalnya dia punya muka yang kiyut sih. Ya…, kira-kira nilainya delapan plus.”
Yah Ipul, lu kagak pernah berubah. Kalo nilai kecantikan cewek, pasti pake skala. Entah apa parameternya.
“Nyampe di terminal, Ukh Eka turun. Sempet juga sih pamitan ama kita. Trus, dia berdiri di peron bis, nunggu bis ke kampungnya nyampe. Seiring berjalannya bis, mata gue nggak bisa gue geser darinya. Dasar, gundul bashor!”
Aku tertawa kecil mendengar kata-kata “gundul bashor”. Memang sudah lumrah, jika Ipul suka plesetan. Dulu, waktu masih di Forum Silaturahmi ROHIS se-SMA, Ipul terkenal dengan kekocakannya.
“Abisnya gue gak mau dia diapa-apain ama orang terminal. Trus, pas bis udah mau keluar dari pintu terminal, gue sms Ukh Eka, supaya jangan pernah ngelakuin kayak gitu lagi. Terlepas dia sudah biasa pulang tengah malem atau nggak.”
“Akhirnya, sekitar jam setengah dua, gue dapet juga kabar dari Ukh Eka, kalo dia udah nyampe di rumah dengan selamat. Dia dijemput ama bokapnya.”
“Ya…, akhirnya gue sadar. Kalo ternyata gue jatuh cinta. Entah cinta monyet atau cinta simpanse? Gue gak tau.”
Cerita berakhir dan kami menghabiskan malam dengan menatap bintang dan menyeruput kopi pahit. Sungguhpun, aku mencoba memahami. Bahwa cinta yang diharapkan oleh Ipul, bukan cinta yang diharapkan untuk terbalas. Melainkan cinta untuk menjaga. Layaknya cinta matahari kepada bumi.
Rembulan semakin meninggi. Api unggunpun tinggal kerjap-kerjapnya saja. Aku kembali merenung. Mungkinkah cinta bisa timbul, hanya dengan perasaan ingin menjaga? Wallaahu a’lam bishshowwab.
Buat sahabatku, Ipul. Niatkan cintamu dalam kerangka cinta yang telah dijelaskan Allah dalam ayat-ayatnya. Aku yakin, engkau akan mendapatkan yang terbaik dari-Nya. Itulah mitsaqan ghaliza. Satu lagi pesan dariku, sesungguhnya cinta itu indah, jika cinta tidak pernah terucap. Itu saja.
Seperti diceritakan sahabatku, Ipul, kepadaku.
Natama Akashiroo.