« Gudeg Yogya, Sayur [Kolak] Nangka | Main | BERUBAH!!! »

The Message

Malam ini (Ahad, 14/05/06) aku tidak dapat memejamkan mataku. Padahal jarum panjang jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 00.20 AM. Aku sudah berusaha menyetel lagu instrumen klasik untuk menemaniku menuju alam mimpi. Namun, tetap saja aku tidak bisa berangkat menemui dewi malam.

Di ruang kreasi kontrakanku, sengaja kunamakan seperti itu untuk menyebut ruang utama di rumah kontrakanku,  kudengar sayup-sayup suara pementasan wayang golek dari televisi. Hadi belum tidur, pikirku. Ya, siapa lagi yang ‘nekat’ nonton wayang golek tengah malam seperti ini jika bukan penggila budaya sunda.

Hadi, seorang teman yang baru menyelesaikan pendadarannya hari Kamis (11/05/06) lalu, merupakan putra sunda kelahiran Serang. Jadi, tidak heran jika darah sunda mengalir cukup deras di dalam urat nadinya. Dan, Asep Sunandar Sunarya adalah dalang favoritnya. Sehingga jika sudah Asep yang mendalang, Hadi terlihat seperti orang yang terbius oleh indahnya kotak ajaib di depannya,.

Aku beranjak keluar kamar dan berniat untuk menemaninya menonton TV. Aku pikir, aku bisa menikmati lakon malam ini. Tapi, entah kenapa, koq rasanya aku nggak mudeng mendengar bahasa dan logat sang dalang. Mungkin karena itu lah, kemudian aku mencoba mengajak Hadi ngobrol. Mencari tahu, lakon apa yang dimainkan malam ini oleh Kang Asep.

Obrolan dibuka dengan tema wayang golek malam ini, kemudian mengalir ke tema kuliah, mengarungi jeram-jeram bertema masalah organisasi, dan bermuara ke tema psikologi. Satu hal yang menarik bagi diriku adalah masalah psikologi. Terutama dalam hal penyampaian harapan dan keinginan dari individu kepada individu lainnya. Jika kutarik kesimpulan dari obrolan yang memakan waktu satu jam, maka akan seperti ini.

“Jika komunikator menyampaikan pesan (perintah) kepada komunikan, maka komunikator harus menyampaikan pesan (perintah) dengan bahasa yang mudah dipahami oleh komunikan.”

Selama ini aku memang banyak menemui hal-hal yang terjadi karena tidak mengamalkan pesan di atas. Banyak macam kesalahpahaman yang terjadi. Misalnya, kita ambil analogi simbol-simbol lalu lintas jalan raya. Jika kita tidak pernah mempelajari arti simbol-simbol tersebut, niscaya akan terjadi kecelakaan.

By the way, kita sendiri lah yang akan menemukan formula tepat untuk menyampaikan pesan. Walaupun berawal dari banyak kesalahan. Ssst, aku meminjam slogan sebuah deterjen cuci terkenal, “Nggak Ada Noda, Ya Nggak Belajar”.

Otre, gitu dulu dariku. Wheefff, nguantuk boz. Hari ini begadang sich....

Baitu Tsaqif, 14/05/06

06:14 AM


Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .