Main | December 2006 »

The Message

Malam ini (Ahad, 14/05/06) aku tidak dapat memejamkan mataku. Padahal jarum panjang jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 00.20 AM. Aku sudah berusaha menyetel lagu instrumen klasik untuk menemaniku menuju alam mimpi. Namun, tetap saja aku tidak bisa berangkat menemui dewi malam.

Di ruang kreasi kontrakanku, sengaja kunamakan seperti itu untuk menyebut ruang utama di rumah kontrakanku,  kudengar sayup-sayup suara pementasan wayang golek dari televisi. Hadi belum tidur, pikirku. Ya, siapa lagi yang ‘nekat’ nonton wayang golek tengah malam seperti ini jika bukan penggila budaya sunda.

Hadi, seorang teman yang baru menyelesaikan pendadarannya hari Kamis (11/05/06) lalu, merupakan putra sunda kelahiran Serang. Jadi, tidak heran jika darah sunda mengalir cukup deras di dalam urat nadinya. Dan, Asep Sunandar Sunarya adalah dalang favoritnya. Sehingga jika sudah Asep yang mendalang, Hadi terlihat seperti orang yang terbius oleh indahnya kotak ajaib di depannya,.

Aku beranjak keluar kamar dan berniat untuk menemaninya menonton TV. Aku pikir, aku bisa menikmati lakon malam ini. Tapi, entah kenapa, koq rasanya aku nggak mudeng mendengar bahasa dan logat sang dalang. Mungkin karena itu lah, kemudian aku mencoba mengajak Hadi ngobrol. Mencari tahu, lakon apa yang dimainkan malam ini oleh Kang Asep.

Obrolan dibuka dengan tema wayang golek malam ini, kemudian mengalir ke tema kuliah, mengarungi jeram-jeram bertema masalah organisasi, dan bermuara ke tema psikologi. Satu hal yang menarik bagi diriku adalah masalah psikologi. Terutama dalam hal penyampaian harapan dan keinginan dari individu kepada individu lainnya. Jika kutarik kesimpulan dari obrolan yang memakan waktu satu jam, maka akan seperti ini.

“Jika komunikator menyampaikan pesan (perintah) kepada komunikan, maka komunikator harus menyampaikan pesan (perintah) dengan bahasa yang mudah dipahami oleh komunikan.”

Selama ini aku memang banyak menemui hal-hal yang terjadi karena tidak mengamalkan pesan di atas. Banyak macam kesalahpahaman yang terjadi. Misalnya, kita ambil analogi simbol-simbol lalu lintas jalan raya. Jika kita tidak pernah mempelajari arti simbol-simbol tersebut, niscaya akan terjadi kecelakaan.

By the way, kita sendiri lah yang akan menemukan formula tepat untuk menyampaikan pesan. Walaupun berawal dari banyak kesalahan. Ssst, aku meminjam slogan sebuah deterjen cuci terkenal, “Nggak Ada Noda, Ya Nggak Belajar”.

Otre, gitu dulu dariku. Wheefff, nguantuk boz. Hari ini begadang sich....

Baitu Tsaqif, 14/05/06

06:14 AM


Gudeg Yogya, Sayur [Kolak] Nangka

Maaf sebelumnya, apabila judul di atas terkesan mendiskreditkan satu pihak. Soalnya, hal ini hanya berdasarkan pengalaman subjektif saya saja.
Sebagai orang daerah 'pedas', tentu saya tidak merekomendasikan gudeg sebagai menu utama. Tapi yang pasti, bagi saya yang hobi makan, tentu tidak melakukan hitung-hitungan apabila di suruh untuk makan gudeg. Apalagi gratis. Walaupun rasanya manis, saya tetap saja enjoy untuk memakannya. Mungkin, teman-teman sekalian dapat membayangkan, makan nasi dengan kolak pisang. Rasanya kayak apa ya? By the way, tetap enak koq.
Gudeg, merupakan makanan khas daerah yogya, walaupun tidak dapat dikatakan makanan asli karena makanan ini juga diproduksi di Jawa Tengah.
Sayur ini didominasi oleh rasa legit dan gurih. Dengan bahan baku utamanya adalah nangka muda yang dibumbui keluwak. Warna coklat biasanya dihasilkan dari daun jati yang di masak bersamaan. Biasanya disajikan lengkap dengan areh (santan kental) dan sambel krecek atau kulit sapi yang di masak bersama sambal goreng.
Untuk penjualannya, teman-teman harus berhati-hati. Karena banyak penjual gudeg tembak Rp. 10.000. Artinya, ketika teman-teman tidak berhati-hati dalam memilih penjual gudeg, bakal kena tembak 10.000. Padahal, harga nasi gudeg di utara kampus UMY Wirobrajan di barat Yogyakarta, harganya tidak semahal itu. Dengan ongkos Rp. 4000,00 kita dapat memperoleh nasi gudeg lengkap dengan asesorisnya plus lauk ayam. Sori ya, sedikit promosi.