Iqra!

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Apa kabar iman hari ini?
Ku yakin, ia masih ada di hati kita, walaupun hanya setitik.
Pernahkah hadir, ketika kita akan melakukan maksiat, ada rasa yang melarang kita untuk melakukannya, karena memang maksiat adalah dosa?
Itulah keimanan kita, yang menjaga kita agar tetap di jalanNya.
Mari kita berdoa, agar jangan sampai Allah mencabut nikmat iman dari hati-hati kita.

Allah hadir melalui ayat kauliyah dan kauniyahNya.
Melalui Al-Kitab dan makhluk-makhlukNya.
Ketika kita melihat bintang, itu adalah ayatnya. Ketika kita melihat bulan, itu juga merupakan ayatnya.
Pun kepada makhluk hidup ciptaannya, agar kita senantiasa dapat mengambil pelajaran.

Newton kuambil sebagai inspirator, terlepas dari keagamaannya.
Ia adalah manusia yang tidak pernah mengecap Al-Qur'an dan As-Sunnah, tetapi ia dapat melihat dengan akalnya, tentang ayat-ayat Allah, yang tidak pernah ada di dalam injil sekalipun, yang menjelaskan tentang gaya gravitasi.

Mungkin, masih teringat ayat Ar-Rahmaan.
Di sana Allah mengatakan, "Hai jama'ah jin dan manusia. Jika dapat menembus penjuru langit dan bumi, maka tembusilah. Sesungguhnya tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan." Al-ayah.
Ayat itu, menjelaskan bahwa, ada suatu hal, atau kekuatan yang menahan suatu benda agar tidak lepas dari bumi. Dan untuk dapat lepas dari kekuatan itu, harus dengan kekuatan juga. "Ilaa bi shultoon."

Begitupun dengan manusia-manusia besar lainnya seperti Karl Marx, Hitler, Che Ghuevara, Genghis Khan, dan lainnya. Mereka adalah pemimpin besar, terlepas dari ideologi yang mendasari pemikiran mereka. Mereka dapat membaca ayat kauniyah Allah, namun penafsiran mereka terpeleset karena mereka tidak menggunakan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai referensi. Mereka adalah orang yang mengagungkan akal sebagai "Al-Qur'an dan As-Sunnah" mereka.
Mari kita ambil segala kelebihan mereka yang sesuai dengan referensi yang kita gunakan, Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan buanglah semua yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Sesungguhnya, ayat kauniyah Allah bertaburan di alam semesta ini.
Maka tidaklah salah, apabila kita diwajibkan untuk melakukan purifikasi, untuk kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Karena dua hal itu merupakan referensi yang haq terhadap ayat kauniyah yang kita temukan.
Sekarang, tergantung kepada kita, makhluk Allah yang diberi akal, untuk memungutnya, atau membuangnya.
Wallaahu a'lam bishshowwab.

                            

Main Bola Yuk!

Subhanallah, pagi ini gue coba main futsal. Padahal, sebelumnya gue males ngegerakin badan buat main bola. Paling, main bola cuma di komputer. Btw, olah raga pagi ini cukup membuat gue merasa lebih sehat dari hari-hari sebelumnya.

Semua itu dimulai ketiga gue berniat untuk tidur abis taddarus pagi di wisma. Tiba-tiba, dateng temen gue yang ngajak maen futsal ama anak-anak wisma. Yah, coba-coba aja sih. Akhirnya, setelah ngulet-ngulet sejenak, gue langsung ganti baju dan siap tempur. Tampilan gue pagi itu kayak preman kepagian. Muka serem, bawahan bikin ketawa, coz yang gue pake buat olahraga, selembar celana training yang udah gue buntungin betisnya. Untung gue nggak niat pake sarung pagi itu. Ntar jadinya kayak orang sunatan lagi.

Jadi juga akhirnya kita berangkat main. Lokasinya di kampus, tepatnya di lapangan bintang UMY. Kita mulai kick off kira-kira jam delapanan dengan matahari menyengat. Jadi, sudah cukup panas untuk sebuah permainan futsal. Tapi dasar, memang mukanya udah berubah jadi kayak bola, ya sebodo amat ama cuaca kayak gitu. Kita main bola sampe jam sembilan pagi. Dengan skor 7 – 4. Tim gue kalah.

Minggu, 3 Desember 2006.

UJIAN TUHAN

Hari ini, temen gue Opick, masuk rumah sakit. Gara-garanya kecelakaan di jalan Yogya – Wates km 17. Waktu itu dia mo ngehindarin motor ugal-ugalan yang ngebut ke arahnya. Dan yang terjadi adalah, ia mendapat ujian dari Allah. Sedangkan yang cari gara-gara kabur entah kemana.

Opick luka di bagian wajah, dan patah tulang lengan bagian bawah. Entah humerus atau ulna yang kena. Yang pasti sakit banget rasanya. Gue denger berita itu abis zhuhur. Coz pas sebelum zhuhur, gue ama Qis-tea, temen gue satu wisma, nyambangin walimatul hajj tetangga deket rumah.

Opick dirawat di kamar yang sama dengan kamar gue waktu gue kecelakaan dulu. Waktu itu, gue masuk rumah sakit bukan karena kecelakaan motor. Tapi gara-gara kelahi ama preman. Dan ternyata premannya lebih jago, sehingga ujung-ujungnya gue nebeng di RS selama empat hari gara-gara patah tulang nasal. Tapi lumayan, premannya jatuh juga gara-gara gue tinju. Walaupun dia nggak keluar kecap.

Seorang ustadz, yang jadi inspirator gue, memberikan nasihat kepada gue. Bahwa apa yang gue dapetin dari kejadian itu, adalah ujian dari tuhan. Dan nggak sembarang orang yang mendapatkan ujian itu. Hanya kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dan ikhlas di jalan Allah lah ujian itu dikaruniakan.

Sampai sekarang gue mencoba mencerna nasihat sang ustadz. Ternyata, gue belum bisa dapet jawabannya. Mungkin karena ketaqwaan gue yang kurang, atau karena tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan gue yang belum nyampe ke tingkat pemahaman filosofis seperti itu.

Ya, gue harap, temen-temen gue, khususnya gue, senantiasa dapat memetik hikmah dari berbagai fenomena Tuhan dan ketuhanan. Dan Opick senantiasa dalam lindungan Tuhan. Fren, doain Opick ya, supaya dia cepet sembuh dan kembali ke dalam barisan perjuangan Dakwah Ilallah. Amiin.

Minggu, 3 Desember 2006.

MALING - MALING KECIL

Pada suatu sore yang cerah terlihatlah empat orang anak kecil, kira-kira usia SD kelas enam, di etalase stationery sebuah toko buku terkenal di kota Bandar Lampung, Gramedia. Terlihat mereka merencanakan sesuatu. Karena masih jelas tampak di wajah mereka, eforia keberhasilan pengutilan pertama beberapa minggu yang lalu.

Sang anak kemudian terlihat mengambil beberapa buah pensil, sedangkan yang lain mengalihkan perhatian satpam dan penjaga toko. Dengan gerakan yang cepat dan rapi, benda-benda itu sudah berpindah ke balik baju sang anak.

Namun, tanpa disangka, seorang satpam yang cukup berpengalaman dalam menangkapi pengutil, memergoki mereka. Sehingga dalam beberapa detik, satpam itu menangkap dan memaksa mereka untuk menyerahkan hasil kutilannya.

Untunglah satpam itu cukup bijak. Mereka dilepas setelah sebelumnya diberikan setumpuk wejangan. Bocah-bocah itu pulang dengan wajah tegang dan cemas. Dan salah satunya adalah... ya, benar-benar ia adalah Nata kecil.

Terima kasih ya Allah, engkau telah memberikan kepada kami pelajaran kejujuran melalui tangan-tangan petugas. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus ya Rabb. Ampunilah hamba....

Hikayat "Gue - Elu", "Aku - Kamu", "Ane - Ente", "Ana - Antum"

Apa perbedaan antara masing-masing kata di atas?
Terlihat, secara makna, memiliki arti yang sama.
Namun secara rasa, mungkin agak berbeda.
Jika si A, lebih nyaman menggunakan kata Gue – Elu
Jika si B, lebih nyaman menggunakan kata Aku – Kamu.
Jika si C, lebih nyaman menggunakan kata Ane – Ente
Jika si D, lebih nyaman menggunakan kata Ana – Antum

Ada sesuatu menyebabkan si D tidak suka dengan si A, hanya karena kata yang digunakannya. D mengatakan bahwa, menggunakan kata-kata yang digunakan A hanyalah cocok untuk orang-orang pasar. Dan jika seorang aktivis menggunakan kata-kata tersebut, maka aktivis itu akan dinilai nggak akhsan karena
tasyabbuh dengan preman dan telah masuk menjadi golongan preman.

Begitupun sikap D kepada B, namun lebih baik ketimbang sikap D kepada A. D menganggap B sebagai orang aktivis biasa saja yang dinilai hanif olehnya.

Namun yang lebih lembut lagi, adalah sikap D kepada C. D memaklumi dan mentolerir kata-kata yang digunakan C adalah kesalahan
lughah bahasa arab.

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa bahasa arab adalah bahasa surga. Namun, apabila digunakan secara semena-mena, apakah bahasa arab akan mendatangkan surga? Wallahu a’lam.

GUE JATUH CINTA

    “Pernah nggak sih, lu jatuh cinta?” seorang teman melontarkan pertanyaan itu suatu ketika. Ipul, sebutlah begitu, si penanya itu, ia temanku satu kampung.

    Aku merenung sebentar. Entah, rasanya sudah lama aku tidak jatuh cinta. Mungkin karena hatiku sudah butek dan jutek. Namun, aku tetap mencoba untuk merenung kembali tentang jatuh cinta. Utamanya tentang substansinya, yaitu cinta.

    Cinta, sebuah kata yang tersusun dari lima buah huruf. Sulit sekali mengartikannya. Mungkin bisa diibaratkan dengan cintanya matahari kepada bumi. Betapapun suhu kulit luar matahari mencapai 6000K, ia tidak pernah menyebabkan seluruh dunia hangus karenanya. Namun, andaikan saja jarak matahari ke bumi dikurangi satu senti saja, tentu akan menyebabkan kenaikan suhu yang sangat besar untuk bumi hingga menjadi bumi padang pasir. Ataupun jika jarak matahari ke bumi di tambah satu senti, mungkin bumi akan berubah menjadi padang es.

    Itulah cinta matahari kepada bumi. Matahari senantiasa menjaga bumi agar tetap sejuk untuk dihuni manusia. Namun, berikutnya pertanyaan mendasar terlontar. Siapakah yang menciptakan cinta antara matahari dan bumi?

    “Pernah nggak sih, lu jatuh cinta?” Ipul bertanya lagi. Tepatnya ketika aku dan dia kemping di sebuah pantai di kampungku, ia mencoba membuka isi hatinya kepadaku.

    “Mungkin,” jawabku datar. “Udah lama gue nggak jatuh cinta,” lanjutku.

    “Gue jatuh cinta, Nat.” ia berbisik, memecah keheningan malam di bibir pantai. “dengan seorang akhwat.”

    Dengan akhwat? Bukan dengan kucing? Aku tertawa dalam hati sambil menggeser posisi dudukku untuk mendekatinya. Angin laut yang dingin membelai rambutku. Membuatku semakin mendekapkan lutut. Api unggun yang masih giat menjilati kayu bakar terasa kurang hangat.

    “Ia seorang akhwat yang penuh semangat dan enerjik. Nggak ada yang seperti dia di organ gue.” Ia berhenti sejenak, menarik nafas. Aku hanya diam, mendengar, dan memperhatikan. Aku sudah mafhum apabila ia sedang bercerita, ceritanya akan mengalir seperti air. Bila ada setumpuk batu yang menghalangi, tentulah alur ceritanya akan berubah.

    “Semua itu berawal ketika gue dan tim ahli FSxx LDK gue, berangkat ke kota M, untuk mengonsep MUNAS I FSxx. Tim gue terdiri dari dua ikhwan dan seorang akhwat. Yaitu gue sendiri, Akh Ivan, dan Ukh Afa. Akh Ivan ama Ukh Afa tuh, senior gue. Kita berangkat malam hari dari kampus gue. Dan rencananya jam sembilan kita lepas dari kota ini.” Ia membuka cerita.

    Aku ingat ketika itu. Aku juga merupakan utusan MUNAS I FSxx dari LDK kampusku. Namun karena ketika menjelang hari keberangkatan aku tiba-tiba sakit, maka teman-teman terpaksa tidak memberangkatkan diriku.

    “Nah, sekitar jam setengah sembilan, kita berangkat bareng ke terminal bis pake motor. Gue dan ikhwan satu lagi, dibonceng ama senior-senior gue. Sedangkan yang akhwat dianter ama temen kosnya. Akhwat juga. Lu masih inget kan, ama Eka, temen satu sekolah lu?”

    Ia merendahkan suaranya ketika menyebutkan nama akhwat itu, yang biasa disebut oleh teman-temannya dengan panggilan Eka. Aku pernah mengenalnya ketika SMA dulu. Ia memang mantan ikhwit yang tomboy. Hobinya adalah naik gunung dan ngebut.

    “Gue en temen-temen nyampe di terminal bis, dan kita ketemu dengan tim FSxx dari kampus laen yang juga berangkat untuk menghadiri pertemuan di kota A. Kita memang udah janjian.”

    “Pas itu kita masih biasa-biasa aja, hingga suatu saat, Ukh Afa terlihat memarahi Ukh Eka.” Wajah Ipul terlihat memerah. Entah karena marah, kesal, atau karena malu.

    “Malam itu, Ukh Eka yang sedianya hanya mengantar Ukh Afa sampai terminal, bersikeras untuk ikut berangkat. Mau pulang, katanya.”

    Memang, Eka yang jadi tema cerita malam ini, adalah seorang akhwat yang selain tomboy, juga punya karakter keras kepala, nekat, tapi pemberani. Ia tinggal di bilangan kota sebuah provinsi yang bersebelahan dengan provinsi Ipul. Ketika SMA, Eka sering pulang kampung naik motor. Padahal, jalan yang mengantarkan Eka pulang, tergolong jalan padat dan punya resiko kelas satu.

    “Ukh Eka terus berkeras untuk pulang, dan akhirnya Ukh Afa mengizinkan. Gue gondok banget ngeliatnya. Gue sempet mikir, nih akhwat error apa edan ya?”

    Ternyata, wajah Ipul yang memerah disebabkan oleh rasa kesal yang mendalam. Lucu juga nih….

    “Ternyata sebelum Ukh Eka memutuskan untuk ikut berangkat, ia bertemu dengan seorang temannya dari kota yang sama dengannya. Mereka tinggal di kampung yang sama. Hanya saja sekarang, temannya kuliah di kampus yang berbeda dengan kampusnya gue ama Ukh Eka.”

    “Masalahnya, temennya Ukh Eka tuh, cowok. Gue kan jadi takut kalo Ukh Eka diapa-apain. Itu pertama kalinya timbul di dada rasa ingin melindungi Ukh Eka.”

    Cieee…. Sok puitis juga nih bocah, pikirku.

    “Tapi untunglah, pas kita mau berangkat, Ukh Eka keilangan jejak temennya. Entah temennya dah berangkat duluan, gue nggak tau. Yang pasti, Ukh Eka sempet nanya temennya yang tadi ama gue. Dan gue jawab kalo gue nggak tau”

    “Jam sembilan malem kita berangkat. Ketika itu, bis masih sepi. Mungkin pas nggak rame, kali ya? Posisi dudukku dengan Ukh Eka hanya selisih dua kursi. Satu baris tempat duduk itu ada empat kursi. Jadi andaikan gue duduk di banjar kursi sebelah kiri, bagian kanan, Ukh Eka duduk di banjar kanan, bagian kiri.”

    “Eh, gimana maksudnya. Gue nggak ngerti banjar-banjaran yang lu bilang,” ujarku. Kebetulan ketika ia menjelaskan tentang masalah banjar, pikiranku lagi terbang ke soto banjar.

    “Yah, elu Nat. Biasa pulang pake bis ekonomi sih. Isinya kan, satu baris lima kursi.” Ipul tampak sewot. “Gini aja deh, lu masih inget kan, waktu upacara SMA kita disuruh baris dua-dua? Anggep aja satu garis ke samping disebut baris. Sedangkan satu garis ke belakang disebut banjar. Nah, kalo di bis itu kan, satu baris ada empat kursi yang dibagi dalam dua bagian.”

    “Oh iya, sori Pul, gue baru nyambung masalah banjar ama baris,” Sambarku cepat. “terusin lagi cerita lu.”

    “Tiba-tiba, Ukh Afa nyuruh gue pindah. Gue sempet mikir, ni orang kenapa, koq nyuruh gue pindah. Padahal gue nggak ngapa-ngapain. Gue baru sadar pas gue pindah ke lajur kanan, satu garis ama Ukh Eka. Ternyata Ukh Afa curiga kalo gue ambil kesempatan curi pandang ke arah Ukh Eka dengan posisi seperti itu,” Ipul berhenti sejenak. Untuk mengatur detak jantungnya. “Memang, antara gue ama Ukh Afa itu ada konflik terpendam. Gue dulu pernah disidang ama Ukh Afa gara-gara Ukh Afa curiga ama gue, kalo gue nyimpen VMJ ama Ukh Eka. Padahal, aslew, gue aktif di LDK tuh, gara-gara panggilan hati. Walau nggak bisa gue pungkiri, rasa simpati ama Ukh Eka juga pernah menghampiri hati gue.”

    Yaa, begajul juga ni anak. Ngakunya nggak VMJ, ternyata malah kena infeksi VSMMJ alias Virus Simpati Menjadi Merah Jambu. Aku pikir sih, lumrah apabila seorang aktivis dakwah kena VMJ. Asal tidak menginfeksi hati. Itu prinsipku.

    “Di perjalanan ke kota MU, tempat transit Ukh Eka, Ukh Eka sempet minjem HP ama gue buat ngirim SMS. Buat ortu kayaknya. Gue juga sempet nanya. Kira-kira jam berapa dan pake apa Ukh Eka nerusin perjalanan ke kampungnya? Trus, dia bilang kalo nyampe di kota B, sebut aja kayak gitu, kira-kira jam dua belasan. Trus dari kota B ke terminal kampungnya, nerusin naik bis. Abis itu dari terminal, Ukh Eka dijemput ama bokapnya.”

    “Gile banget. Akhwat, malem bolong turun di terminal!? Gue nggak abis pikir, Nat. Ternyata Allah pernah menciptakan akhwat macem Eka. Nekat banget ni anak,” Ipul berhenti sejenak. Ceritanya terdengar seperti cerita orang yang ekstra khawatir. “Gue sempet mikir. Andaikan gue boleh nemenin akhwat ampe rumah, gue mau nganterin dia pulang ampe depan rumahnya.”

    Dasar, ni anak masih bakwan kayaknya. Eh, semi ikhwan ding.

    “Akhirnya, kita tiba di kota B. Tepat jam dua belas. Gue tegang banget en berharap cemas, mudah-mudahan ni anak nggak diapa-apain ama preman terminal. Soalnya dia punya muka yang kiyut sih. Ya…, kira-kira nilainya delapan plus.”

    Yah Ipul, lu kagak pernah berubah. Kalo nilai kecantikan cewek, pasti pake skala. Entah apa parameternya.

    “Nyampe di terminal, Ukh Eka turun. Sempet juga sih pamitan ama kita. Trus, dia berdiri di peron bis, nunggu bis ke kampungnya nyampe. Seiring berjalannya bis, mata gue nggak bisa gue geser darinya. Dasar, gundul bashor!”

    Aku tertawa kecil mendengar kata-kata “gundul bashor”. Memang sudah lumrah, jika Ipul suka plesetan. Dulu, waktu masih di Forum Silaturahmi ROHIS se-SMA, Ipul terkenal dengan kekocakannya.

    “Abisnya gue gak mau dia diapa-apain ama orang terminal. Trus, pas bis udah mau keluar dari pintu terminal, gue sms Ukh Eka, supaya jangan pernah ngelakuin kayak gitu lagi. Terlepas dia sudah biasa pulang tengah malem atau nggak.”

    “Akhirnya, sekitar jam setengah dua, gue dapet juga kabar dari Ukh Eka, kalo dia udah nyampe di rumah dengan selamat. Dia dijemput ama bokapnya.”

    “Ya…, akhirnya gue sadar. Kalo ternyata gue jatuh cinta. Entah cinta monyet atau cinta simpanse? Gue gak tau.”

    Cerita berakhir dan kami menghabiskan malam dengan menatap bintang dan menyeruput kopi pahit. Sungguhpun, aku mencoba memahami. Bahwa cinta yang diharapkan oleh Ipul, bukan cinta yang diharapkan untuk terbalas. Melainkan cinta untuk menjaga. Layaknya cinta matahari kepada bumi.

    Rembulan semakin meninggi. Api unggunpun tinggal kerjap-kerjapnya saja. Aku kembali merenung. Mungkinkah cinta bisa timbul, hanya dengan perasaan ingin menjaga?  Wallaahu a’lam bishshowwab.

    Buat sahabatku, Ipul. Niatkan cintamu dalam kerangka cinta yang telah dijelaskan Allah dalam ayat-ayatnya. Aku yakin, engkau akan mendapatkan yang terbaik dari-Nya. Itulah mitsaqan ghaliza. Satu lagi pesan dariku, sesungguhnya cinta itu indah, jika cinta tidak pernah terucap. Itu saja.

Seperti diceritakan sahabatku, Ipul, kepadaku.
Natama Akashiroo.

BERUBAH!!!

Mulai minggu ini, gue bertekad, untuk mengubah manajemen amal gue. Coz, kalo gue pikir-pikir, gue udah kelamaan futur. Masa’, tiap hari kerjaannya, abis sholat shubuh trus tidur ampe matahari agak tinggi. Atau nggak, ngidupin komputer tanpa tujuan yang jelas.

Pagi ini, gue coba mulai sesuatu yang baru. Taddarus gue, gue tingkatin 100%. Yang tadinya satu halaman tiap abis sholat, gue bertekad untuk ngabisin 1 lembar tiap abis sholat. Gue punya ambisi, sebelum bulan Desember ini abis, gue udah khatam al-Qur’an.Gue harap, gue bisa. Masa’, penolong agama Allah, nggak pernah nolong dirinya sendiri dari api neraka. “Intanshurullaaha yanshurkum, wa yutstsabbit aqdaamaqum.” (QS. Muhammad 7). Ya Allah, berikan gue semangat untuk membela dien-Mu. Allahu Akbar.

Sebuah Perenungan
Minggu, 3 Desember 2006

The Message

Malam ini (Ahad, 14/05/06) aku tidak dapat memejamkan mataku. Padahal jarum panjang jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 00.20 AM. Aku sudah berusaha menyetel lagu instrumen klasik untuk menemaniku menuju alam mimpi. Namun, tetap saja aku tidak bisa berangkat menemui dewi malam.

Di ruang kreasi kontrakanku, sengaja kunamakan seperti itu untuk menyebut ruang utama di rumah kontrakanku,  kudengar sayup-sayup suara pementasan wayang golek dari televisi. Hadi belum tidur, pikirku. Ya, siapa lagi yang ‘nekat’ nonton wayang golek tengah malam seperti ini jika bukan penggila budaya sunda.

Hadi, seorang teman yang baru menyelesaikan pendadarannya hari Kamis (11/05/06) lalu, merupakan putra sunda kelahiran Serang. Jadi, tidak heran jika darah sunda mengalir cukup deras di dalam urat nadinya. Dan, Asep Sunandar Sunarya adalah dalang favoritnya. Sehingga jika sudah Asep yang mendalang, Hadi terlihat seperti orang yang terbius oleh indahnya kotak ajaib di depannya,.

Aku beranjak keluar kamar dan berniat untuk menemaninya menonton TV. Aku pikir, aku bisa menikmati lakon malam ini. Tapi, entah kenapa, koq rasanya aku nggak mudeng mendengar bahasa dan logat sang dalang. Mungkin karena itu lah, kemudian aku mencoba mengajak Hadi ngobrol. Mencari tahu, lakon apa yang dimainkan malam ini oleh Kang Asep.

Obrolan dibuka dengan tema wayang golek malam ini, kemudian mengalir ke tema kuliah, mengarungi jeram-jeram bertema masalah organisasi, dan bermuara ke tema psikologi. Satu hal yang menarik bagi diriku adalah masalah psikologi. Terutama dalam hal penyampaian harapan dan keinginan dari individu kepada individu lainnya. Jika kutarik kesimpulan dari obrolan yang memakan waktu satu jam, maka akan seperti ini.

“Jika komunikator menyampaikan pesan (perintah) kepada komunikan, maka komunikator harus menyampaikan pesan (perintah) dengan bahasa yang mudah dipahami oleh komunikan.”

Selama ini aku memang banyak menemui hal-hal yang terjadi karena tidak mengamalkan pesan di atas. Banyak macam kesalahpahaman yang terjadi. Misalnya, kita ambil analogi simbol-simbol lalu lintas jalan raya. Jika kita tidak pernah mempelajari arti simbol-simbol tersebut, niscaya akan terjadi kecelakaan.

By the way, kita sendiri lah yang akan menemukan formula tepat untuk menyampaikan pesan. Walaupun berawal dari banyak kesalahan. Ssst, aku meminjam slogan sebuah deterjen cuci terkenal, “Nggak Ada Noda, Ya Nggak Belajar”.

Otre, gitu dulu dariku. Wheefff, nguantuk boz. Hari ini begadang sich....

Baitu Tsaqif, 14/05/06

06:14 AM


Gudeg Yogya, Sayur [Kolak] Nangka

Maaf sebelumnya, apabila judul di atas terkesan mendiskreditkan satu pihak. Soalnya, hal ini hanya berdasarkan pengalaman subjektif saya saja.
Sebagai orang daerah 'pedas', tentu saya tidak merekomendasikan gudeg sebagai menu utama. Tapi yang pasti, bagi saya yang hobi makan, tentu tidak melakukan hitung-hitungan apabila di suruh untuk makan gudeg. Apalagi gratis. Walaupun rasanya manis, saya tetap saja enjoy untuk memakannya. Mungkin, teman-teman sekalian dapat membayangkan, makan nasi dengan kolak pisang. Rasanya kayak apa ya? By the way, tetap enak koq.
Gudeg, merupakan makanan khas daerah yogya, walaupun tidak dapat dikatakan makanan asli karena makanan ini juga diproduksi di Jawa Tengah.
Sayur ini didominasi oleh rasa legit dan gurih. Dengan bahan baku utamanya adalah nangka muda yang dibumbui keluwak. Warna coklat biasanya dihasilkan dari daun jati yang di masak bersamaan. Biasanya disajikan lengkap dengan areh (santan kental) dan sambel krecek atau kulit sapi yang di masak bersama sambal goreng.
Untuk penjualannya, teman-teman harus berhati-hati. Karena banyak penjual gudeg tembak Rp. 10.000. Artinya, ketika teman-teman tidak berhati-hati dalam memilih penjual gudeg, bakal kena tembak 10.000. Padahal, harga nasi gudeg di utara kampus UMY Wirobrajan di barat Yogyakarta, harganya tidak semahal itu. Dengan ongkos Rp. 4000,00 kita dapat memperoleh nasi gudeg lengkap dengan asesorisnya plus lauk ayam. Sori ya, sedikit promosi.